(Ini bukan sensi)

Subuh sangat dingin membelai wajahku
tubuh menggigil mendekap kepingan takdir
hati berjinjit meninggalkan genangan air asin
tangan mengepal sebatang ranting hampir kering
sayu tatapku mencoba menembus pekatnya cermin
terpantul wajah pasi dengan lipatan kerut di dahi
siapa ini? benarkah ini adalah pantulan dari wajahku?
wajah yang katanya selalu dipenuhi oleh balutan aura sensi
perlahan aku menggeleng, mengangguk, lalu menggeleng kuat
Tidak!! Kalian salah! Kali ini aku sama sekali tidak sedang sensi
mungkin benar sikap diamku terkesan menarik diri dari pergaulan
Bukan! bukan karena alasan itu aku tidak segera menampakan diri
aku hanya butuh waktu sendiri, hidupku sedang benar-benar di uji
Butuh waktu sampai kapan? Itu tanya beberapa dari kalian
maaf, aku tidak tahu pasti, hati dan kepalaku hampa sekali
sudah kucoba untuk terus menyibukan diri ke sana ke mari
mengerjakan apapun yang saat ini bisa untuk aku kerjakan
namun entahlah perasaan hampa ini tak jua kunjung pergi
bahkan terasa semakin mencengkram dikala aku sendiri
fhiuhhh… sejujurnya hati dan pikiranku sudah cape sekali
baru kali ini aku dihimpit perasaan gelisah seperti saat ini
Sahabat… maaf bila sikap diamku tak mengena di hati kalian
sungguh, bukan dalam rangka menghindar dari kepedulian kalian
aku tahu, aku tidak pernah sendiri, ada kalian yang selalu siap temani
besar penghargaanku atas limpahan kepedulian dan kasih sayang kalian
Ini hari ke sembilan selepas bunda dipanggil kembali menghadap Illahi
alhamdulillah semua amanat, wasiat dan syariat sudah bisa aku penuhi
seharusnya aku sudah melenggangkan kaki menjemput apa yang kucari
namun mimpi kedua saudaraku membuat hatiku sempat miris sekali
tepat sehari sebelum bunda pergi dan selepas acara tujuh hari beliau
entah kebetulan atau memang itu merupakan pesan khusus untukku
dalam tidur tidak lelapnya dua saudaraku mendapat mimpi yang sama
dalam mimpi mereka, aku terlihat jelas mendampingi bunda 'pergi'
Subhanallah, apakah mimpi itu 'pertanda' atau bunga tidur belaka?
sejujurnya aku belum siap untuk 'pergi', bekalku masih tipis sekali
ingin rasanya kutepis rasa miris ini dan kembali ke dunia penuh logika
tertawa ceria tanpa dibayangi kekhawatiran akan segera tiba takdirku
menepis bayangan mati yang semakin hari semakin lekat menyelimuti diri
Kekasih… terima kasih untuk selalu ada disaat aku membutuhkan dekapan
beruntung aku mendapatkan sosok dirimu yang sabar dan sangat pengertian
do'akan agar aku secepatnya mampu menata kembali segala kekacauan diri
Kun fa yakun, terjadilah apapun yang memang Dia inginkan untuk terjadi
InsyaAllah aku akan selalu siap, kapanpun tiba masaku 'dijemput' nanti
(Jupie doc/dalam balutan mirisnya hati/18Mei09)
Baca terusannya? klik di mari!


Coretanku